Rupiah menguat 0,19% ke level Rp16.855 per USD pada 6 Februari 2026, didorong sentimen “risk-on” global akibat meredanya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed. Trader valuta asing catat inflow asing Rp2,3 triliun ke Surat Berharga Negara sepekan terakhir.
Penguatan ini kontras pelemahan bulanan 0,56%, dengan pelaku pasar tetap waspada data inflasi AS dan kebijakan fiskal Prabowo yang picu volatilitas. Diskusi di forum seperti Jawa11 ramai soroti apakah rebound ini berkelanjutan atau jebakan sementara, mengingat proyeksi Trading Economics Rp16.812 akhir kuartal masih tekanan jual.
Faktor Penggerak Utama
Data CFTC tunjukkan posisi net long investor asing naik tajam, ditambah stabilisasi harga komoditas nikel dan sawit pasca-panen raya. BI intervensi spot market efektif jaga Rupiah di atas Rp17.000, tapi analis nilai ketergantungan eksternal ini rentan flip “risk-off” mendadak.
Proyeksi Teknis
Support kuat di Rp16.800 dan resistance Rp16.500, dengan RSI 55 indikasikan momentum bullish moderat. Trader ritel saran take profit parsial, karena ATR harian 150 poin tunjukkan volatilitas masih tinggi dibanding rata-rata 2025.
Tantangan Domestik
Meski sentimen global suportif, defisit transaksi berjalan 1,8% PDB dan utang luar negeri US$400 miliar tetap beban struktural. Kritikus khawatir euforia risk-on tutupi kelemahan fundamental seperti konsumsi rumah tangga lesu dan IHSG sideways.